1. Kegunaan Pakan

Pakan merupakan salah satu faktor penting dalam usaha peternakan. Manajemen pakan diperlukan untuk meningkatkan produktivitas ternak. Pakan yang diberikan pada ternak berguna untuk mempertahankan hidup pokok yang antara lain dipergunakan untuk mempertahankan suhu, energi untuk kondisi normal, protein serta mineral untuk pergantian jaringan tubuh yang aus. Pakan juga digunakan utuk berproduksi yang meliputi pertumbuhan, produksi susu dan tenaga kerja, serta bereproduksi (kawin, bunting, beranak, dan menyusui).

Biaya yang harus dikeluarkan untuk pengadaan ransum dapat mencapai 60 – 70 % dari seluruh biaya operasional bahkan dapat lebih besar, tergantung dari efisiensi penyusunannya.

  1. Jenis Dan Macam Bahan Pakan

Bahan pakan ternak terdiri atas :

  1. Hijauan

Rumput (lapangan, gajah, raja, kolonjono), legume/kacang-kacangan (turi, lamtoro, kaliandra, gliricideae), daun-daunan/ramban dan limbah pertanian (jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, pucuk tebu). Hijauan awetan, silase, hay.

 

  1. Konsentrat

Berupa campuran bahan pakan. Sumber tenaga : dedak, bekatul, tetes, onggok, kelapa pohon, gaplek, dan lain sebagainya. Sumber protein : bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, bungkil kedelai, bungkil biji kapuk, dan lain sebagainya. Limbah industri seperti ampas tahu, ampas bir, onggok, bungkil kelapa, bungkil kapuk, dan lain sebagainya.

 

  1. Pakan tambahan

Vitamin, mineral, kapur, garam, kalsit, molases/testes, probiotik (bioplus, biofad, starbio), dan lain sebagainya.

Konsentrat yang baik adalah dalam bentuk kering, dan apalagi digenggam dan kemudian dilepaskan, tidak menggumpal. Penggunaan pakan (misal: ampas tahu, ampas ketela) dalam keadaan basah dapat dilakukan, namun harus segera dimakan habis, sehingga tidak terjadi pembusukan yang dapat mengganggu kesehatan ternak.

  1. Penyusunan Ransum

Untuk dapat melakukan penyusunan ransum secara efisien, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Mengetahui berat badan atau perkiraan berat badan sapi

Berat badan sapi dapat diketahui secara pasti dengan melakukan penimbangan. Akan tetapi, timbangan ternak tidak selalu dapat tersedia, oleh karena itu dapat dilakukan penaksiran atau melakukan pengukuran dihitung menggunakan rumus  Schoorl atau Lambourne.

 

 

Rumus Schoorl :

Berat badan (kg) = (Lingkaran dada (cm)+22)²

100

Rumus Lambourne :

Berat badan (kg) = Panjang badan (cm) x Lingkaran dada (cm)²

10840

Setelah berat badan sapi diketahui/ditaksir, kemudian dilakukan perhitungan kebutuhan pakan sapi. Kebutuhan pakan ternak sapi berdasarkan estimasi intake/kebutuhan bahan kering (BK) adalah 2,5 – 3 % berat badan.

Contoh :

Sapi dengan berat 400 kg, maka kebutuhan BK/hari = 3% x 400 kg = 12 kg BK/hari.

 

  1. Menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat, cukup tersedia dan harga terjangkau

 

Bahan pakan yang digunakan sebagai ransum sapi sebaiknya mudah didapatkan, tersedia sepanjang musim, dan harganya terjangkau. Namun, segi kualitas harus juga benar-benar diperhatikan. Hindari mendapatkan bahan yang murah tetapi kualitasnya kurang baik, sehingga produktivitas ternak akan menurun.

 

  1. Memperhatikan tujuan pemeliharaan (breeding atau fattening)

Selain kita tahu kebutuhan ternak, kemungkinan kita menentukan bahan pakan yang akan digunakan dengan memperhatikan faktor-faktor ketersediaan, kandungan nutrient, bahan pakan diusahakan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia (misalnya sisa hasil pertanian), harga, kemudahan dalam pemberian, dan lain-lain. Cara pemberian: meliputi waktu dan frekuensi pemberian, bentuk pakan (segar/kering/pellet/silase/hay). Evaluasi: meliputi konsumsi pakan, konversi pakan, harga, fee cost/gain.

Dalam penyusunan ransum, diperlukan antara lain: tabel kebutuhan pakan (sesuai dengan status fisiologis atau tujuan produksi), tabel komposisi bahan pakan serta bahan pakan yang akan digunakan.

  1. Cara Pemberian Pakan
  2. Pemberian dapat dilakukan 2 -3 kali sehari (pagi, siang, sore).
  3. Air minum harus tersedia dan diganti setiap hari.
  4. Pemberian konsentrat dapat dilakukan secara kering ataupun basah (comboran).
  5. Pada usaha sapi penggemukan (fattening),
  6. pemberian pakan adalah: 2,5% – 3% berat badan (BK basis).
  7. Pada tahap adaptasi pakan sapi (penggemukan), konsentrat diberikan secara bertahap :
    • 3 hari pertama  : 20% konsentrat : 80% hijauan
    • Hari ke-4 hingga ke-7 : 40% konsentrat : 60% hijauan
    • Hari ke 8 hingga 14 : 60% konsentrat : 40% hijauan
    • Setelah hari ke-14 : 80% konsentrat : 20% hijauan
  8. Pemberian rumput : kalau masih basah sebaiknya diangi-anginkan dahulu, dipotong-potong kurang lebih 10 cm, pemberian rumput setelah konsentrat.

Rata-rata kebutuhan pakan sapi penggemukan dengan ADG sekitar 1 kg.

Tabel 1. Rata-rata kebutuhan pakan sapi dengan ADG sekitar 1 kg

Berat Badan Sapi (kg) Konsentrat Rumput/Hijauan (kg)
200 4,7 5,5 – 10
250 6,1 6,6 – 13
300 7,0 7,5 – 15
350 7,9 8,5 – 17
400 8,7 9,3 – 19
450 9,5 10,2 – 21

Keterangan : Bahan pakan dalam asfed, BK konsentrat 86% dan BK hijauan 20%

  1. Pengolahan Pakan (Konservasi Pakan)

Pengolahan pakan dilakukan untuk tujuan pengawetan dan penyimpanan sehingga dapat digunakan pada musim-musim sulit pakan, serta untuk peningkatan kecernaan pakan. Pengolahan pakan yang biasa dilakukan antara lain:

  1. Pembuatan silase

Tujuannya adalah untuk mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau, untuk menampung kelebihan hijauan atau memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhannya baik tetapi belum dipergunakan, serta memanfaatkan hasil sisa pertanian atau hasil ikutan pertanian. Prinsip pembuatan adalah hampa udara, suasana asam sehingga bakteri pembusukan dan jamur mati dan hijauan dapat tahan lama. Cara pembuatan adalah sebagai berikut :

  • Hijauan (rumput) dilayukan, dipotong-potong (5 – 10 cm).
  • Diberi tambahan karbohidrat sebagai substrat bakteri, misal tetes/molases, tepung jagung, dedak halus, onggok, kurang lebih 3%, dicampur rata.
  • Dimasukkan ke dalam silo (tempat penyimpanan), dipadatkan dan ditutup rapat.
  • Setelah 8 minggu, silo dapat dibuka. Kalau silo baik dapat tahan 2-3 tahun.
  • Ciri silase baik : pH rendah, baud an rasanya asam, warna masih hijau, tidak coklat, tidak terdapat lendir/jamur, tidak menggumpal dan bersih.
  1. Pembuatan hay

Hay adalah pakan ternak yang sengaja dipotong dan dikeringkan sehingga tidak segar lagi, tetapi masih cukup mengandung gizi yang bermanfaat. Tujuannya adalah menyediakan pakan bagi ternak pada saat tertentu. Prinsip pembuatannya adalah menurunkan kadar air hijauan sampai 15% dengan pengeringan sinar matahari, pengeringan buatan, pengeringan aliran udara panas. Cara pembuatannya adalah sebagai berikut:

  • Hijauan dipotong-potong, diletakkan pada pelataran pengeringan.
  • Tiap 1 – 2 jam, hijauan dibolak balik.
  • Lama pengeringan 4 – 8 jam selesai, atau dilakukan sampai kadar air hijauan 15%.
  • Ciri hay yang baik : warna hijau kekuningan, bentuk daun masih jelas, tekstur lemas, tidak keras atau mudah patah, baunya harum, bersih dari kotoran dan jamur.
  1. Pengolahan Jerami Padi

Tujuan pengolahan jerami padi adalah meningkatkan nilai gizi jerami padi, dapat dengan amoniasi atau fermentasi. Bahan amoniasi jerami padi adalah jerami padi, urea, dan air. Peralatan : timbangan, ember plastik, sabit, sekop, tempat amoniasi (lubang dalam tanah, drum bekas, atau kantong plastik).

Pengolahannya adalah sebagai berikut :

  1. Sediakan tempat amoniasi, ukuran tergantung kebutuhan, dapat dilapisi lembaran plastik.
  2. Jerami padi ditimbang, dipotong-potong sepanjang 5 – 10 cm.
  3. Timbang urea 2% dari berat jerami padi. Jika jerami padi 100 kg, urea 2% x 100 kg = 2 kg.
  4. Sediakan air setara dengan berat jerami padi yaitu 100 liter. Air yang 30 liter digunakan untuk melarutkan urea, sisanya disiramkan ketumpukan jerami padi.
  5. Jerami padi dimasukkan ke dalam tempat amoniasi. Setiap ketebalan 10 – 20 cm dari tumpukan jerami padi dilakukan penyiraman dengan larutan urea. Setiap lapisan dipadatkan supaya proses amoniasi berjalan baik.
  6. Setelah penumpukan jerami padi selesai, ditutup dengan plastik dan setelah 1 bulan proses amoniasi selesai.
  7. Sebelum diberikan pada ternak, terlebih dahulu diangin-anginkan untuk mengurangi bau amoniak. Supaya dapat disimpan lama, jerami padi hasil amoniasi ditaruh di tempat yang teduh. Untuk pembuatan fermentasi jerami padi: proses sama, tetapi menggunakan urea 0,25% dan mikroba (starbio atau EM4) 0,25%.