Kandang berfungsi untuk memberikan kenyamanan bagi ternak, melindungi ternak dari gangguan yang tidak diinginkan dan memudahkan pengelolaan. Ternak akan berproduksi optimal jika berada dalam kondisi yang nyaman. Kenyamanan ternak akan terjaga jika syarat hidupnya terpenuhi. Ternak akan terlindungi dari gangguan yang tidak diinginkan jika kandang mampu menahan masuknya berbagai macam gangguan, seperti gangguan alam yang ekstrim (di luar kemampuan ternak untuk beradaptasi), binatang buas, pencuri, dan sebagainya. Kemudahan pengelolaan akan tercapai jika kandang dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai dengan pola manajemen yang akan diterapkan (efektif) tanpa meninggalkan prinsip efisiensi. Untuk itu kandang harus direncanakan secara menyeluruh mulai dari penentuan lokasi, pembuatan lay out (tata letak), sampai dengan pembuatan kandang itu sendiri.

a.    Penentuan Lokasi
Lokasi kandang harus diperhitungkan baik secara makro (daerah) maupun mikro (area). Secara makro, lokasi kandang harus dekat dengan sumber sarana produksi atau tempat pemasaran, sesuai dengan RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) daerah setempat, dan berada dalam lingkungan yang mendukung. Lingkungan dalam hal ini meliputi lingkungan social maupun alam (iklim). Secara mikro, kandang harus mudah dijangkau sarana tranportasi sehingga menghemat biaya dan terpisah dari pemukiman sehingga tidak mengganggu dan tergantung oleh lingkungan sekitar.
Kedekatan kandang dengan sumber sarana produksi (bibit/bakalan, pakan, air dan obat) dan tempat pemasaran berkaitan erat dengan biaya produksi dan pemasaran. Kandang harus dibuat di tempat yang diijinkan oleh pemerintah sesuai dengan RUTRnya karena jika tidak, dapat dipastikan kelangsungan usahanya tidak akan terjamin.

Lingkungan sosial merupakan faktor yang tidak boleh dilupakan. Hal ini berkaitan dengan besarnya biaya sosial yang harus dikeluarkan dan bahkan berkaitan dengan kelangsungan usaha. Jika kandang berada di dekat masyarakat yang tidak sehat (tidak aman) maka biaya sosial yang harus kita keluarkan akan sangat tinggi. Jika kandang berada di dekat masyarakat yang tidak menginginkan keberadaannya maka kelangsungan usaha kita akan terancam.

b.    Tata Letak Kandang
Setelah lokasi ditentukan, peternak harus menentukan tata letak kandang. Hal pertama yang harus ditentukan dalam pembuatan tata letak adalah fasilitas apa saja yang akan dibuat, berapa kapasitasnya, serta bagaimana ukuran dan bentuknya. Letak kandang dapat digunakan secara efektif dan efisien. Efektif dalam arti fungsi-fungsinya dapat dioptimalkan dan pengelolaan farm mudah dilakukan. Efisien dalam arti tidak banyak lahan kosong di area peternakan yang tidak termanfaatkan.

c.    Pembuatan Kandang
Setelah tata letak ditentukan, peternak baru bisa memulai pembuatan kandang dan fasilitas lainnya. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan kandang meliputi ukuran, bahan, sistem penempatan, dan peralatan yang akan digunakan.

d.    Bahan Pembuatan Kandang
Bahan pembuatan kandang bervariasi tergantung dari daerah atau lokasi tempat kandang. Di daerah tropis, dianjurkan kandang terbuka dari bahan-bahan yang tidak menyerap panas. Bahan-bahan untuk membuat kandang sebaiknya :
1.    Tersedia di lokasi.
2.    Harga terjangkau, bahan murah tetapi cukup kuat dan tahan lama.
3.    Jangan menggunakan bahan mudah lapuk atau muda.

e.    Atap Kandang
Atap kandang sebaiknya menggunakan bahan yang kuat, tidak menyerap panas dan harga bahannya terjangkau. Tinggi atap harus lebih tinggi dari manusia, terutama jika kandangnya lebar melebihi kemampuan tangan meraih bagian dalam kandang. Atap dapat terbuat dari berbagai macam bahan, seperti genting, daun alang-alang, daun rumbia, daun kelapa, asbes dan seng. Bahan mana yang dipilih tergantung dari segi ekonomis bahan, keawetan dan kenyamanan bagi ternak. Pemakaian seng dan asbes tidak dianjurkan, karena akan menaikkan suhu udara suhu udara di dalam kandang, sehingga ternak akan merasa kehausan, nafsu makan turun dan ternak akan lebih banyak minum daripada makan. Genting merupakan salah satu bahan atap yang sering digunakan, karena harganya relatif murah, tahan lama dan tidak terlalu menyerap panas.
Tinggi atap juga perlu diperhatikan, karena sangat berperan dalam pengaturan suhu di dalam kandang sehingga dapat mengurangi stress pada sapi. Untuk mendapatkan pertukaran udara yang baik, atap sebaiknya dengan ketinggian 3 m dengan sudut kemiringan sekitar 30º . Atap hendaknya dibuat dapat melindungi tempat pakan dari sinar matahari dan ujan.

f.    Dinding Kandang
Dinding kandang harus dibuat sesuai dengan komoditas ternak yang akan dipelihara. Dinding kandang sebagai penahan angin secara langsung dan harus dibuat tidak mudah lepas dan harus kuat. Bahan dapat dari kayu, bambu atau tembok.

g.    Lantai Kandang
Lantai kandang harus dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah di sekitarnya sehingga air hujan tidak dapat masuk ke kandang dan sistem pembuangan air (drainase) dari kandang dapat berjalan lancar. Agar lantai tidak becek, maka tanahnya harus dikeraskan ataupun diplester dengan semen. Jika diplester dengan semen, maka permukaan lantai harus dengan miring, sehingga air (termasuk air kencing) dapat mengalir keluar kandang dan lantai lebih mudah dibersihkan. Lantai biasa dibuat dengan kemiringan 5%, artinya permukaan lantai di bagian belakang dengan di depannya yang berjarak 100 cm akan mempunyai perbedaan 5 cm, permukaan lantai harus lebih tinggi dari tanah.
Berdasarkan sistem pembersihan lantainya, maka lantai kandang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu basah (tanpa alas) dan kering (dengan alas). Sistem basah biasanya digunakan pada pemeliharaan sapi dalam jumlah kecil, besar khususnya pada sistem penggemukan.
Pada sistem basah, feses diangakat dan lantai kandang dibersihkan setiap hari kemudian disiram dengan air sehingga kandang benar-benar bersih. Sistem ini dapat menjamin kebersihan kandang tetapi memerlukan tenaga yang banyak.
Pada sistem kering, lantai diberi alas (misalnya serbuk gergaji) kemudian feses yang telah tercampur dengan alas diangkat setiap periode tertentu (biasanya 1 – 2 minggu). Sistem ini mudah dalam pelaksanaannya tetapi membutuhkan perhatian ekstra terhadap tingkat kekeringan kandang. Peternak rakyat biasa menggunakan jerami kering sebagai pengganti serbuk gergaji. Untuk usaha pembibitan yang menggunakan sistem kering maka kekeringan alas harus benar-benar dijaga untuk menghindari terjadinya mastitis (radang susu).
Berdasarkan sistem penambatannya, maka kandang dibedakan menjadi dua, yaitu : tambat dan lepas. Pada sistem tambat, ternak ditambatkan dengan tiang sehingga tidak bebas bergerak, ruang gerak ternak dibatasi oleh panjang tali. Sistem tambat mempunyai dua model tempat ikatan, yaitu di bawah dan di atas. Kelebihan ikatan di bawah adalah panjang tali dapat mengikuti kehendak kita karena ternak tidak mudah terjerat. Kelemahanya adalah tali lebih mudah kotor dan rusak. Kelebihan ikatan di atas adalah tali tidak mudah kotor dan rusak. Kelemahanya adalah ternak mudah terjerat sehingga panjang tali harus benar-benar diperhitungkan. Pada sistem lepas, ternak dibiarkan bebas tanpa tali. Ruang gerak ternak dibatasi oleh sekat/dinding kandang.
Berdasarkan sistem penempatan ternaknya maka kandang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu individu dan kelompok petak. Kandang individu adalah kandang yang hanya diisi satu ekor ternak pada setiap petak. Luas kandang/petak yang dibutuhkan pada sistem pemeliharaan ini adalah sebesar 3 m²/ekor. Pada kenyataannya sistem tambat daoat dismakan dengan sistem individu meskipun beberapa ternak dipelihara dalam kandang yang sama karena antarternak tidak dapat berinteraksi secara bebas. Dalam sistem ini panjang tali harus diatur sedemikian rupa sehingga antarternak tidak terjadi saling kait.
Kandang kelompok adalah kandang yang diisi oleh lebih dair satu ekor ternak pada setiap petak. Sapi yang dipelihara dengan sistem lepas dan berkelompok membutuhkan luasan kandang yang lebih fleksibel, yang penting sapi dapat makan dan tidur secara bersama-sama pada saat yang sama. Patokan yang digunakan untuk menentukan panjang tempat pakan adalah tergantung besar ukuran sapi yang dipelihara. Patokan yang digunakan untuk menentukan luas lantai kandang adalah luasan ternak ketika tidur sehingga sapi bisa tidur serentak. Sebaiknya sapi ditempatkan dalam kandang sesuai status reproduksi dan produksinya, misalnya induk bunting, induk menyusui bersama anaknya, induk kering (tidak bunting), anak lepas sapih, dara, jantan muda dan pejantan.
Peternak dapat membuat kandang dengan sistem kombinasi disesuaikan dengan kondisi setempat. Misalnya peternak dapat memelihara ternaknya pada sauatu kandang dengan hanya sebagian saja yang diberi atap (tempat pakan), sedangkan bagian yang lain dibiarkan terbuka menerima sinar matahari dan terpaan hujan secara langsung. Ruang gerak ternak dibatasi denga suatu pagar.
Bagian kandang yang juga harus diperhatikan adalah tempat pakan dan air minum. Tempat/bak pakan dapat dibuat dengan ukuran panjang 60 cm, pakan diperlukan untuk efisiensi dan efektifitas pakan yang diberikan. Biaya pakan akan membengkak jika pakan yang diberikan tidak habis dimakan ternak tetapi hanya berserakan di dalam maupun luar kandang. Tempat air minum diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minum ternak dan menghindari tumpahnya air ke dalam kandang. Syarat tempat pakan dan air minum adalah :
1.    Mudah dijangkau mulut ternak tetapi tidak bisa terinjak.
2.    Mampu menampung jumlah pakan/air yang diperlukan ternak sampai pemberian pakan/air berikutnya.
3.    Tidak mudah digerak-gerakkan ternak sehingga pakan/air yang ada tidak tumpah. Khusunya tempat air minum, tidak bileh bocor sehingga mengairi lantai kandang.
Berdasarkan bentuknya, ada kandang tunggal dan kandang ganda. Kandang tunggal terdiri satu baris kandang yang dilengkapi lorong jalan dan selokan/parit. Kandang ganda ada dua macam, yaitu sapi saling berhadapan dengan dibatasi dinding yang rendah dan sapi saling berlawanan atau saling bertolang belakang dengan dilengkapi lorong untuk mempermudah pemberian pakan dan pengontrolan ternak. Kandang kelompok dengan ukuran 7 m x 9 m dapat menampung sekitar 20 ekor sapi. Ukuran kandang induk 1,5 m x 2 m/ekor, induk melahirkan 2 m x 2,5 m/ekor, jantan 1,8 m x 2 m/ekor, anak 1,5 m x 2 m/ekor, kandang paksa 1,5 m x 0,75 m, sedangkan kandang penggemukan setiap ekor sapi dibutuhkan ruangan/ kandang seluas 3 – 4 m².
Kandang harus sehat, yaitu dibersihkan setiap hari, aliran udara masuk dan keluar berjalan lancer, sinar matahari pagi bebas masuk, sebaiknya menghadap ke timur, tidak lembab dan aliran air/drainase baik serta jauh dari lokasi pemukiman dan sumur.

h.    Perlengkapan Kandang
Perlengkapan kandang sapi yang dipelihara dengan tujuan untuk memperoleh anak adalah : kandang beranak dan kandang karantina. Untuk sistem penggemukan. Perlengkapan yang diperlukan adalah : tempat untuk bongkar muat sapi, gang jepit, kandang paksa, lokasi timbangan sapi, gudang tempat pakan konsentrat.